Tips Menghadapi Masa Kebosanan dalam Perkuliahan

shares |





Bagi mahasiswa, kebosanan bukanlah yang terlalu asing. Kebosanan kadang adalah mimpi buruk yang kerap datang tiba-tiba tanpa diundang. Tidak adanya semangat dan gairah dalam menempuh hari-hari di kampus. Malasnya menghadapi setiap mata kuliah, dan hilangnya konsentrasi akut memamah dan mencerna materi-materi kuliah adalah ciri-ciri utama kala kebosanan melanda.
Kebosanan dalam masa perkuliahan sebenarnya adalah hal yang sangat wajar. Semua mahasiswa – atau hampir semua – pasti pernah mengalaminya, tidak peduli mahasiswa rajin atau tidak, dari semua jenis fakultas dan keilmuwan. Tahun kedua atau masa-masa akhir masa perkuliahan baik akademi atau strata, adalah masa yang paling rawan.
Ada beberapa alasan mengapa kebosanan melanda. Tugas yang menumpuk hampir tanda jeda. Dosen atau pengajar yang membosankan. Materi perkuliahan yang berat atau tidak menarik, atau alasan-alasan pribadi lain seperti kisah percintaan dan persahabatan yang semakin rumit ternyata sangat mempengaruhi hal ini pula.
Beberapa mahasiswa saya menanyakan mengenai hal ini. Mereka meminta pendapat saya bagaimana sebenarnya cara menghadapi kebosanan yang luar biasa dalam masa perkuliahan.
Jujur sebenarnya saya tidak begitu memiliki banyak jawaban, karena toh seperti yang saya utarakan sebelumnya bahwa kebosanan adalah hal yang sangat wajar dan dialami oleh hampir semua mahasiswa, termasuk saya pada saat saya masih menjadi mahasiswa dahulu.
Hanya saja, memang kekhawatiran mahasiswa-mahasiswa saya beralasan. Ini dikarenakan bahwa bila kebosanan tersebut dibiarkan maka mahasiswa akan mendapatkan kerugian yang lebih besar. Misalnya bisa saja mereka akan mulai malas berangkat kuliah dan masa perkuliahan akan berlangsung lebih lama dan tertunda. Selain itu, yang lebih berbahaya adalah ketika mahasiswa kehilangan keinginan untuk belajar. Mereka tidak akan mendapatkan ilmu apapun dari masa perkuliahan.
Berikut saya akan memberikan beberapa tips untuk menghadapi rasa bosan yang menyerang. Tapi tentu saja ini hanya tips, dan sifatnya pun sangat empiris alias berdasarkan pengalaman atau ilmu yang diambil dari pengalaman. Saya akan memberikan beberapa pertimbangan bagi mahasiswa, terkhusus mahasiswa bahasa Inggris dimana merupakan alasan utama tulisan ini dibuat. Walau barangkali ini juga dapat digunakan untuk mahasiswa lain yang memiliki masalah yang serupa.


Pertama, mengubah pola pikir.

Keadaan psikologis mahasiswa adalah inti dari rasa nyaman atau bosan. Ketika mahasiswa merasa bosan, maka tidak ada yang dapat menyakinkan dan meningkatkan semangat mahasiswa selain mahasiswa itu sendiri.
Tugas yang menumpuk adalah salah satu alasan di tingkat paling atas dari mengapa mahasiswa merasa bosan. Padahal bila mau sedikit membuka pikiran, tugas-tugas yang diberikan sebenarnya tidak terlalu banyak dan berat bila dibandingkan dengan tugas-tugas dan pekerjaan rumah sewaktu menjadi pelajar sekolah menengah atas. Pada masa SMA, guru selalu memberikan beragam tugas, siswa selalu mencatat dan menghapal, siswa bahkan sepenuh hari berada di sekolah. Sedangkan pada saat menjadi mahasiswa, mereka dapat menggunakan cara belajar mereka sendiri. Mahasiswa bebas mencari tahu dan meningkatkan ilmu melalui beragam cara tanpa harus mengikuti pola yang telah ada.
Tips pertama ini adalah dengan mengubah pola pikir bahwa mahasiswa memiliki tugas yang menumpuk, sebaliknya tugas yang diberikan tidaklah sebanding dengan masa sekolah dahulu.
Lalu bagaimana dengan dosen atau pengajar yang membosankan, menjengkelkan, galak, atau sepertinya kurang memiliki kualitas atau kompeten dalam pekerjaannya? Bukankah mereka turut membuat mahasiswa menjadi malas dan tidak bersemangat ketika berada di dalam kelas. Nah, inilah mengapa mahasiswa harus berani mengubah pola pikir.
Pada dasarnya setiap dosen memiliki kemampuan yang baik. Memang beberapa ada yang lebih baik, lebih menguasai materi dan lebih kompeneten, namun begitu sisanya hanya terletak pada pembawaan atau sifat dosen itu sendiri. Rata-rata mahasiswa menyukai dosen yang menyenangkan, santai, ramah, lucu dan pintar. Ini membuat mahasiswa bersemangat untuk mengikuti kelas perkuliahan dosen-dosen tersebut. Namun, jangan biarkan ini menipu anda. Don’t forget about the materials and the scores and their assessments. Dosen yang menyenangkan tidak selalu mampu mengatur kelas dan menyampaikan materi dengan baik. Dosen yang serius tidak jarang memberikan materi yang padat dan ‘bergizi’. Jangan terjebak dengan perasaan, karena sedikit bosan dengan banyak ilmu mungkin kadang lebih penting.
Selain itu, harus pula disadari bahwa kebosanan ibarat mendung pada masa perkuliahan. Mendung akan berakhir selama kita mampu bertahan dan berlindung darinya. Jadi sebosan apapun, jangan khawatir, karena semua orang mengalaminya. Tidak hanya mahasiswa, namun juga pegawai dalam pekerjaannya, dan manusia dalam hidupnya.

Kedua, coba berpikir dengan hukum ekonomi … keuntungan!
Ingat bahwasanya ketika kita kuliah, cukup banyak dana yang dibutuhkan untuk membayar keperluan kuliah kita. Jangan sampai biaya yang dihabiskan terbuang sia-sia. Bila kebosanan melanda dikarenakan mahasiswa tidak ‘cocok’ dengan beberapa karakter dosen, atau karena materi yang diajarkan tidak satupun dapat dikuasai, jangan mau rugi dengan hanya menerima keadaan. Hilangkan rasa bosan dengan meningkatkan semangat melalui materi kuliah itu sendiri. Misalnya mata kuliah vocabulary tidak menyenangkan karena dosen kaku, sebagai akibatnya mahasiswa malas dan bosan setiap masuk ke kelas vocabulary, materi pun akhirnya tidak dikuasai. Jangan mau rugi! Tanyakan materi vocabulary pada dosen-dosen yang dianggap mampu, mumpuni namun ‘murah ilmu’. Atau tanyakan pada dosen-dosen yang serius namun dapat menjawab pertanyaan dengan ringkas namun illuminating. Atau jangan ragu untuk menanyakan dosen yang bersangkutan setelah mata kuliah berakhir karena barangkali ada atmosphere yang berbeda pada dosen tersebut ketika di dalam kelas dan setelah kelas berakhir.
Hukum ekonomi juga masih berlanjut untuk menghadapi kebosanan. Coba pergi ke perpustakaan, atau gunakan laboraturium bahasa, atau gunakan fasilitas-fasilitas lainnya, seperti internet atau ruang komputer, kantin dan sebagainya. Logikanya, walau bosan, jangan sampai mahasiswa tidak mendapatkan sesuatu apapun dari kampus, baik ilmu, pengetahuan, atau pengalaman. Semuanya sangat berharga. Apalagi jangan sampai menyesal ketika masa kebosanan telah terlewati, kita baru sadar bahwa kita telah melewati banyak hal.

Ketiga, stay focus.
Hampir serupa dengan tips sebelumnya, jangan mau rugi. Lebih baik untuk berfokus pada satu bagian. Sebagai contoh, dalam perkuliahan fakultas Bahasa Inggris, terdapat mata kuliah semacam writing, speaking, listening, translation, atau lingustics. Kadang tidak semua disukai dan dikuasai. Kebosanan dapat melanda pada mata kuliah dimana dosen tidak mendukung, atau mata kuliah tersebut yang terlampau berat. Cara satu-satunya agar tidak tersiksa bosan, fokus saja pada mata kuliah yang paling disukai, atau paling dikuasai, atau yang paling menyenangkan. Paling tidakm rasa bosan tidak berhasil membunuh semua bagian masa perkuliahan. Misalnya saja pada kelas business correspondence seorang mahasiswa dapat merasa nyaman dan serius tanpa merasa bosan, maka fokuslah disana. Pada business correspondence, sebenarnya mahasiswa dapat mengambil sebanyak-banyaknya advantages, dengan memperkuat kemampuan writing atau grammar and structure. Mata kuliah apapun pada akhirnya memiliki banyak elemen tambahan. Dengan fokus pada satu mata kuliah atau kelas tertentu, mahasiswa dapat ‘melawan’ serangan rasa bosan.

Keempat, to love is to win!
Tips terakhir yang mungkin dapat dipertimbangkan adalah to love the campus, subject and materials. Tidak ada gunanya semua tips bila mahasiswa sendiri sebenarnya ‘tidak punya hati’ terhadap perkuliahannya.
Sebagai contoh, seorang mahasiswa bahasa Inggris kehilangan rasa tertarik pada beragam mata kuliah dikarenakan kemampuaannya seakan tidak bertambah dalam bahasa Inggris. Dosen dan materi tidak menarik sehingga kecintaannyaterhadap bahasa Inggris pada waktu awal kuliah menjadi menghilang, ada baiknya sang mahasiswa kembali mengingat memori awal kuliah. Ia harus kembali mengingat betapa bahasa Inggris itu menyenangkan, cool, up to date, serta bahasa yang cerdas dan scientific. Kembali cintai bahasa Inggris dengan melakukan hal-hal yang membangkitkan rasa cinta tersebut. Misalnya bila mahasiswa tersebut mencintai bahasa Inggris sebagai bahasa yang cool dan up to date, coba buka 9gag.com, atau urbandictionary.com, atau website sejenisnya sekedar untuk having fun atau terus ‘gaul’ dengan bahasa Inggris yang lucu dan seru. Bila melihat bahasa Inggris sebagai bahasa yang agung dan artful, silahkan up to date dengan membeli novel-novel bahasa Inggris atau mendowload ebook (silahkan klik di thebookvalley.blogspot.com untuk ebook novel-novel download gratis dalam bentuk epub dan pdf) novel-novel atau buku-buku berbahasa Inggris. untuk membuatnya semakin menarik, challenge yourself dengan cara mencari batas kemampuan bahasa Inggris anda. Mahasiswa dapat mencari novel, teks, artikel, lirik lagu, atau dialog sebuah film, kemudian bila ada bagian-bagian yang tidak dapat dipahami, silahkan bahas dengan teman sekelas, atau tanyakan dan bahas dengan dosen-dosen yang menurut anda dapat ‘diajak bekerja sama’. Dengan begini, kebosanan dapat diminimalisir.

Itulah beberapa tips yang dapat saya sampaikan. Namun begitu, saya dapat katakan bahwa kebosanan tidak dapat dihindari. Namun hal buruk yang tidak dapat dihindari bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti. Semangat can cinta terhadap pendidikan adalah yang utama.

Good luck then folks

Sumber  : nikodemusoul.wordpress.com

Penulis   : Irvini Ramayana Purba AP_201

Related Posts

0 komentar:

Posting Komentar